Beranda » JABODETABEK » Hanura Menyesalkan Tidak Lolos PT

Minggu, 19 Mei 2019 - 13:47:15 WIB
Hanura Menyesalkan Tidak Lolos PT
Diposting oleh : Redaksi
Kategori: JABODETABEK - Dibaca: 170 kali

Jakarta SP Adanya pernyataan Pak OSO, yang disampaikan pada acara buka puasa bersama lembaga DPD RI bahwa tidak lolosnya Partai HANURA memenuhi ambang batas (Parliamentary Threshold), yang menjadi faktor penyebabnya adalah Bapak Wiranto. Pernyataan ini sungguh disesalkan. Bukan hanya menodai buka puasa Ramadhan yang semestinya digunakan untuk meningkatkan silaturahim, juga pernyataan itu disampaikan dihadapan Presiden. Acara yang dihadiri Presiden, biasanya sangat ketat dengan tata krama. Dan tata krama itulah yang menjadi marwah sebuah acara yang dihadiri Presiden dan tokoh penting lainnya.

Untuk diketahui, duduknya Pak OSO menjadi Ketum Partai HANURA, karena restu dari Ketua Umum sebelumnya yaitu Bapak Wiranto, karena beliau Pak Wiranto diangkat oleh Presiden menjadi Menkopolhukam, yang tugasnya mengkoordinasikan masalah yang berkaitan dengan politik, hukum dan keamanan.
Agar tidak terjadi konflik kepentingan, Pak Wiranto lebih memilih fokus membantu Presiden menjadi Menkopolhukam dan menyerahkan puncuk pimpinan Partai HANURA kepada Pak OSO, melalui Munaslub.

Peralihan Ketum HANURA juga ditandai dengan penandatangan Pakta Integritas.
seiring berjalannya waktu, Partai HANURA di bawah kepimpinan Pak OSO bukan semakin solid, tetapi terjadi perpecahan, akibat model kepemimpinan Pak OSO yang mengabaikan mekanisme dan aturan Partai dalam mengambil keputusan. 

Akibatnya, mayorjtas kader militan Partai HANURA melakukan perlawanan dengan menyelenggarakan. Munaslub III yang memberhentikan Pak OSO sebagai Ketua Umum Partai HANURA

Munaslub II merupakan upaya konstitusional dari mayoritas kader, yang mjuannya tidak lain adalah untuk menyelamatkan Partai yang disana sini terjadi disharmoni bahkan perpecahan.

Tak terhindarkan setelah Munaslub II terjadi konflik. Sebagai sesepuh, pendiri sekaligus Ketua Dewan pembina, Pak Wiranto meminta kedua pihak untuk Isiah.

Sebagai kader yang lebih mementingkan kepentingan Partai, HANURA hasil Munaslub II atau lebih dikenal sebagai HANURA Bambu Apus, menyambut baik keinginan Pak Wiranto tersebut. Namun, ditengah mempersiapkan diri untuk perundingan menuju islah, Pak OSO memecat para kader DPP dan Ketua DPD yang mendukung Munaslub II, tentu saja islah tidak terwujud. Bahkan, langsung terbit SK Menkumham tentang kepengurusan yang barn dibawah ketua Umum Pak OSO.

Dengan terbitnya SK kepengurusan baru tersebut, HANURA Munaslub II mengajukan gugatan ke PUTN, dengan hasil putusan menunda SK Kemenkumham yang baru tersebut. Dengan kata lain kepengurusan Partai HANURA kembali semula seperti saat sebelum konflik (sebelum Munaslub II).

Tetapi, putusan PTUN tersebut, dianulir oleh Menteri Hukum dan HAM melalui sebuah Surat, yang isinya kepengurusan Partai HANURA adalah sesuai SK Menkumhan yang baru.

Selama itu ditujukan untuk eksistensi Partai, HANURA Bambu Apus dengan berat hati patuh terhadap Surat Menkumham tersebut dan meskipun HANURA hasil Munaslub II telah berada diluar struktur, tetap saja sebagian besar masih mau membantu demi keberlangsungan HANURA. Dibuktikan dengan proses veritikasi faktual yang hasilnya lolos.

HANURA hasil Munaslub II masih berharap Pak OSO akan berubah dan tetap berkomitmen untuk membesarkan Partai termasuk membawa gerbong sejumlah anggota DPD menjadi Caleg Partai HANURA.

Ternyata,.tidak. Tidak nampak kerja politik yang mampu mempéngaruhi masyarakat calon pemilih. Bahkan Partai HANURA berjuang untuk meloloskan beliau menjadi DPT calon anggota DPD bukan berusaha keras untuk meloloskan para Caleg. 

Karena itu, tidak terlalu mengherankan kalau perolehan suara HANURA di pemilu 2019, hanya di kisaran 1,8 %, yang nota bene tidak lolos Parliamentary Threshold. Dan anehnya, justru Pak OSO menyalahkan Ketua Dewan Pembina Pak Wiranto.

Tanggung jawab Partai HANURA itu ada ditangan Pak OSO bukan ditangan Pak Wiranto sebagai Ketua Dewan Pembina. ladi tidaklah berlebihan apabila kita menduga Pak 050 mau Iari dart tanggungjawab. Dan ini membuktikan keyakinan mayoritas kader, bahwa Partai HANURA di bawah kepemimpinan Pak OSO tidak banyak yang bisa diharapkan.

Untuk itu, kiranya tidaklah berlebihan juga bila kami kader dan simpatisan Parmi HANURA menuntut Pak Oesman Sapta Odang; Bertanggung jawab atas keterpurukan Partai HANURA Pada Pemilu 2019, dengan secara kesatria mundur dari Kepemimpinan Partai HANURA. 

BERITA TERKAIT

Nasional | Polhukam | Metropolitan | Ekonomi | Teknologi | Pendidikan | Hiburan | Profil | Ragam Berita | Susunan Redaksi
2014 SinarPagi.Net - All rights reserved